![]() |
| Ilustrasi banjir/Ist |
BANDARLAMPUNG, - Bencana banjir beberapa hari ini di
Kota Bandarlampung mengakibatkan dampak moril dan materil, bagi warga Tapis Berseri yang
rumahnya terendam banjir.
Adapun contoh dampak banjir secara materiil untuk
masyarakat Bandarlampung, yakni mengurangi umur ekonomis sebuah bangunan maupun
perlengkapan rumah tangga yang terendam banjir.
“Itu kerugian secara materiil. Karena, barang yang
tadinya tidak terendam banjir bisa bertahan sampai lima tahun, berubah menjadi
1 tahun atau seketika rusak sewaktu terjadi banjir,”kata Pengamat Ekonomi UBL,
Erwin Oktavianto, Senin (17/2).
Kerugian secara moril akibat banjir menyebabkan trauma
bagi masyarakat Bandarlampung akan bahaya banjir saat memasuki musim penghujan.
“Kalau tingkat stress masyarakat menjadi tinggi akibat
banjir, sampah dimana-mana, kemacetan, maka menurunkan nilai ekonomi pemerintah
Bandarlampung dengan sendirinya,” ungkapnya.
Oleh karena itu, jika pemerintah Bandarlampung tidak
menginginkan hal itu terjadi, maka pemerintah harus memerhatikan tiga point
dalam melakukan pembangunan secara berkelanjutan, yakni sosial, ekonomi dan
ekologi.
“Terkadang kita hanya mengedepankan ekonominya saja
dan mengesampingkan sosial dan ekologi,” ungkapnya.
Kendati dampak ekonomi jangka pendek menjadi tinggi
karena masuknya investasi, tetapi dari sisi ekologi berdampak merusak
lingkungan yang semakin lama dikhawatirkan akan menghancurkan Kota Tapis
Berseri.
“Kalau pemerintah dalam melakukan pembangunan tidak
dibarengi dengan berwawasan lingkungan, maka kota kita akan menjadi Metropolis
yang semakin lama semakin hancur. Karena pembangunan itu menuju kehancurkan
akibat lingkungan semakin tergerus, ekosistem rusak sehingga mengakibatkan
bencana alam secara berkelanjutan,” tegasnya.
Selanjutnya, aspek sosial merusak mental masyarakat
akibat pembangunan yang tidak berdampak pada masyarakat setempat, seperti
jalan-jalan tetap berlubang, menjadi langganan banjir, macet dimana-mana dan
sebagainya.
”Frame pembangungan berkelanjutan ini yang seharusnya
didorong untuk aspek ekologi dan sosial. Karena, saat ini dampak tersebut tidak
pernah diperhatikan oleh pemerintah,” ujarnya.
Ia berharap, Pemerintah Bandarlampung agar membenahi
maindset pembangunan Kota Tapis Berseri secara bersamaan, baik ekonomi, ekologi
dan sosial guna menekan terjadinya banjir dan meningkatkan perekonomian
pemerintah setempat.
“Sejauh ini Wali Kota Banarlampung, Herman HN tidak
pernah melakukannya, padahal itu penting,” pungkasnya. (FS)
